Jumat, 27 Januari 2012

SEJARAH PERGRUAN BETAKO MERPATI PUTIH


Merpati Putih merupakan kependekan dari kalimat dalam bahasa jawa, yaitu :
Mersudi patitising tindak pusakane titising hening (mencari tindakan yang paling tepat dalam keheningan/ mencari kebenaran dalam ketenangan)
Manunggalno estining roso pikiran ati tumuju ing pangeran udinen tataran ingkang hagung (menyatukan cipta karsa rasa pikiran dan hati kepada Allah swt untuk mencapai kemuliaan).
Mp_pth.jpgSehingga diharapkan anggotanya menyelaraskan hati dan pikiran dalam setiap tindakanya. Selain itu PPS Betako Merpati Putih memiliki motto "Sumbangsihku tak berharga tapi keikhlasanku nyata".
Merpati Putih merupakan warisan budaya peninggalan nenek moyang Indonesia yang pada awalnya merupakan ilmu keluarga keraton yang diwariskan secara turun temurun, yang pada akhirnya atas wasiat sang guru ilmu Merpati Putih diperkenalkan dan disebar luaskan demean maksud untuk ditumbuh kembangkan agar berguna bagi negara.
Awalnya aliran ini dimiliki oleh Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwhun Kanjeng Susuhunan Pangeran Prabu Mangkurat Ingkang Jumeneng Ing Kartosuro kemudian ke BPH Adiwidjojo (Grat-I), lalu setelah Grat ketiga (R Ay Djojoredjoso ilmu yang diturunkan dipecah menurut spesialisasinya sendiri-sendiri, seni beladiri ini mempunyai 2 saudara lainya, yaitu bergelar Gagak Samudro dan Gagak Seto. Gagak Samudro diwariskan ilmu pengobatan dan Gagak Seto ilmu sastra. Untuk seni bela diri diturunan kepada Gagak Handoko (Grat-IX). Dari Gagak Handoko inilah akhirnya turun temurun ke Mas Saring lalu Mas Poeng dan Mas Budi menjadi PPS Betako Merpati Putih. Hingga kini kedua saudara seperguruan lainya tidak pernah diketahui keberadaan ilmunya dan masih tetap dicari hingga saat ini di tiap daerah di tanah air guna menyatukan kembali.
Secara jelas inilah silsilah penurunan PPS Betako Merpati Putih :
  1. BPH Adiwidjojo (Grat-I)
  2. PH Singosari (Grat-II)
  3. R Ay Djojoredjoso (Grat-III)
  4. Gagak Handoko (Grat-IV)
  5. RM Rekso Widjojo (Grat-V)
  6. R Bongso Djojo (Grat-VI)
  7. Mp_pth.jpgDjo Premono (Grat0VII
  8. RM Wongso Djojo (VIII)
  9. Kromo Menggolo (Grat-IX)
  10. Saring Hadi Poernomo (Grat-X)
  11. Poerwoto Hadi Poernomo dan Budi Santoso Hadi Poernomo (Grat-XI)
Gagak Handoko mendirikan perguruan di sekitar kawasan Bagelen dan akhirnyaperguruan itu hijrah hingga daerah bagian utara pulau jawa. Sedangkan Gagak Samudra mendirikan perguruannya di sekitar gunung Jeruk, tepatnya di kawasan Perbukitan Menoreh. Begitu pula terhadap Gagak Seto mendirikan perguruanya disekitar Magelang Jawa Tengah. Bila dilihat dari silsilahnya perguruan silat Merpati Putih yang berkembang saat ini merupakan turunan langsung dari garis keturunan Gagak Handoko.
Perlu diingat beliau sempat melakukan pengembaraan yang cukup panjang sebagai upaya untuk mencari kedua saudaranya yang selalu melakukan pengambaraan di seluruh penjuru tanah air. Indonesia. Di dalam pengembaraannya Gagak Handoko menggunakan nama samaran yaitu Ki Bagus Karto. Hal ini agar tidak mudah dikenal oleh khalayak ramai. Sayang dalam uapaya pencarian saudaranya tidak mengahsilkan titik terang dan akhirnya sang pendekar kembali ke padepokanya guna mengembangkan ilmu silatnya sendiri.
Mengingat usianya yang telah lanjut maka beliau memberi mandat kepada RM Rekso Widjojo untuk melanjutkan tugas suci dalam mengembangkan perguruannya. Pada akhir hayatnya sang Maha Guru wafat dan kemudian dimakamkan di gunung Jeruk. Dibawah kepemimpinan RM Rekso Widjojo perguruan mengalami kemunduran. Setelah menyadari keadaan tersebut maka ia menyerahkan kepemimpinanya kepada seorang keturunanya yaitu R Bongsodjojo yang tinggal di kawasan Ngulakan Wates. Pada hakekatnya RM Rekso Widjojo sendiri selalu mengikuti jejak ayahnya untuk mencari kesempurnaan hidup baginya d wilayah gunung Jeruk.
Nampaknya perguruan yang di pimpin oleh R Bongso Djojo pun tidak berkembang pesat sehingga mengalami kemunduran sampai pada masa kepemimpinan RM Wongso Widjojo. Dalam era kepemimpinan RM Wongso Widjojo pewaris kepemimpinan dalam perguruan tidak berlanjut. Mengingat beliau tidak mempunyai keturunan maka untuk meneruskan kepemimpinan, ia menunjuk 3 orang yang masih terhitung cucunya, yaitu R Siswopranoto, Sarengat dan Saring Siswo Hadipoernomo untuk menjadi muridnya.
Dari ketiga cucunya yang paling tekun dan bersungguh-sungguh mendalami ilmu bela diri ini adalah R Saring Hadi Poernnomo. Pengembangan ilmu yang diwariskan padanya ternyata cukup menggembirakan. Itu karena beliau sendiri yang menganggap ajaran perguruan yang diwariskan padanya kurang lengkap, maka ia berusaha melengkapinya dengan ajaran Gagak Seto dan Gagak Samudra untuk kemudian digabungkan dengan ilmu yang telah dimilikinya.

Raden Saring Hadi Poernomo ternyata berhasil melalui pengembangan yang dilakukanya dan kemudian diturunkan langsung kepada kedua anak lelakinya yaitu Poewoto dan Budi Santoso. Keduanya inilah yang mendapat gemblengan keras hingga menguasai benar ilmu ajaran ayahnya itu. Pada tahun 1982 Raden Saring mengamanahkan kepada kedua anaknya untuk mengembangkan ilmu mereka untuk kepentingan masyarakat luas. Mereka diminta menyebarkan ilmu yang semula milik keluarga itu.
Berkat usaha keras kedua putra pewaris ilmu keluarga itu, maka pada tahun 1983 berdirilah Perguruan Merpati Putih yang merupakan singkatan dari "Mersudi Patitising Tindak Pusakane Titising Hening" yang berarti mencari sampai mendapat tindak yamg benar dalam keheningan.

Adapun lambang dari Perguruan Betako Merpati Putih memiliki arti sebagai berikut :
  1. Perisai persegi lima melukiskan dasar negara Republik Indonesia;
  2. Bentuk telapak tangan kanan melukiskan semangat perjuangan, kepahlawanan, pembangunan serta semangat gotong royong yang kesemuanya diartikan dengan jiwa yang tguh, berjuang dengan gagah berani untuk mencapai tujuan yang suci;
  3. Merpati Putih cinta perdamaian dan berjiwa perikemanusiaan yang adil dan beradap;
  4. Tulisan Merpati Putih dengan warna putih diatas pita merah melukiskan keberanian atas dasar kesucian;
Mp_pth.jpgArti warna yang dipergunakan:
  1. Biru langit (kesetiaan dan kedamaian)
  2. Hitam (keteguhan dan keabadian)
  3. Kuning emas (keluhuran, keagungan dan kemashuran)
  4. Merah (keberanian)
  5. Putih (kesucian)
Komposisi warna biru langit, hitam, kuning, merah dan putih menggambarkan kemashuran, kepahlawanan dalam memperjuangan cita-cita yang suci menentang keangkaramurkaan dan watak demikian akan tetap dipertahankan secara abadi, sebagai watak dari warga/ anggota Betako Merpati Putih dimanapun ia berada.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar